Artikel

5 Tips Bersaing dengan Fresh Graduate

Kalau soal usia sudah dijamin Anda tidak bisa bersaing dengan para fresh graduate itu sudah hukum alam. Namun jangan langsung patah semangat dan jangan juga anggap remeh dengan para “Fresh Graduate” ini.

Mereka punya kelebihan-kelebihan lain – selain usianya yang masih muda belia, yang kalau Anda tidak hati-hati mereka akan menikung Anda. Karenanya, untuk bisa melampaui mereka Anda perlu melakukan beberapa hal berikut ini.

1. Berteman dengan Teknologi

Jangan malas ataupun enggan bersahabat dengan yang namanya teknologi. Apalagi di era perkembangan media sekarang ini. Pemahaman akan penggunaan teknologi sangat dibutuhkan. Anda bisa memeroleh up date mengenai berita apapun yang diperoleh oleh para anak baru itu juga.

2. Lebih Lunak

Dalam menghadapi anak baru Anda harus bersikap lebih unak dalam arti bukan menuruti semua yang dikatakan mereka melainkan fleksibel. Anda tidak menggunakan peraturan lama puluhan tahun lalu untuk diterapkan kepada mereka.

Mereka beda generasi dengan Anda, kalau bisa disebut karyawan baru ini adalah generasi Y yang tidak menyukai aturan. Makanya perlu kedewasaan dan mengurangi pengekangan dalam menghadapi mereka.

3. Lebih Senior Soal Ilmu

Lebih lama di kantor, tentunya Anda sudah lebih paham mengenai seluk-beluk pekerjaan Anda. Ini bisa jadi salah satu kelebihan Anda yang harus dikembangkan. Jangan monoton juga, karena seiring perkembangan zaman, pada akhirnya cara lama akan tergantikan dengan cara baru yang lebih efisien. Tetapi sejatinya pemahaman Anda yang lebih dulu dapat membuat Anda selangkah lebih maju ketimbang karyawan baru fresh graduate.

4. Attitude

Salah satu kelemahan karyawan baru dengan cap fresh graduate adalah sikap dan perilakunya yang kurang santun. Bisa jadi perbedaan zaman yang membuat mereka berperilaku demikian. Ini bisa menjadi keuntungan di sisi Anda. Karena yang namanya pekerjaan bukan hanya soal kepintaran saja tetapi juga perilaku.

5. Pengalaman

Usia dan kematangan dalam bekerja bisa menjadi nilai lebih buat Anda dibanding karyawan fresh graduate. Bayangkan Anda sudah bergelut di bidang tersebut bertahun-tahun, dilampaui oleh anak baru? Namun menyikapi kondisi demikian jangan gegabah juga tetap harus rajin menimba ilmu.

5 Jurusan Kuliah yang Paling Dibutuhkan di Dunia Kerja

Lulus kuliah langsung kerja pastinya adalah cita-cita semua orang. Tapi sayang, hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nah, buat Anda yang saat ini sedang memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan berencana merancang masa depan gemilang, ada baiknya Anda tahu potensi jurusan perkuliahan yang dicari-cari di dunia kerja.

Sejatinya ada berbagai faktor yang mempengaruhi relevansi pekerjaan tertentu, tetapi perkembangan teknologi yang konstan mungkin yang paling penting. Simak di sini jurusan kuliah yang paling dibutuhakn di dunia kerja!

1. Software Developer

Ini sudah menjadi pekerjaan yang sangat populer dan bergaji tinggi dari bidang IT. Menjadi software developer akan menjadi pilihan yang bagus di masa mendatang. Soalnya semakin banyak teknologi baru dikembangkan, sehingga banyak perusahaan membutuhkan tenaga software developer di masa sekarang dan akan datang.

2. Ahli Bioteknologi

Pandemi corona semakin meyakinkan kalau industri kesehatan dan teknologi biologi diperlukan di masa mendatang. Terkhusus pada profesi ahli bioteknologi, Anda akan dituntut dapat memodifikasi urutan genetik, membuat solusi medis baru, termausk perkembangan teknologi DNA.

3. Spesialis Pemasaran

Riset pemasaran merupakan salah satu bidang yang masih akan ada di masa depan karena perusahaan akan selalu berusaha untuk berkembang dan berprestasi lebih baik. Supaya bisa melakukan itu, mereka membutuhkan orang-orang yang mampu mempromosikan barang dan jasanya dengan cara-cara inovatif yang cerdas dan menjaga citra merek mereka. Itulah gunanya profesi spesialis pemasaran.

4. Analis Bisnis

Tugas seorang analis bisnis bermacam-macam, mulai dari menjadi jembatan antar departemen, menganalisis data, menemukan solusi, dan mengevaluasi berbagai implementasi proyek. Singkatnya, Anda harus memiliki keterampilan teknis dan komunikasi agar berhasil melakukan pekerjaan ini, dan semuanya dimulai dengan studi di jurusan bisnis.

5. Psikoterapis

Bisa dibilang semakin banyak orang stres dan depresi di zaman sekarang ini. Untuk itulah profesi di bidang psikoterapis dibutuhkan ke depannya untuk menangani orang-orang yang mengalami masalah pada kesehatan mentalnya. Kalau Anda amati, semakin banyak komunitas kesehatan mental dan konseling online untuk menangani masalah gangguan jiwa. Ini adalah salah satu bukti kalau jurusan psikologi akan semakin berkembang ke depannya.

Smartphone Culture dan Robohnya Attention Span Kita

Salah satu dampak kelam kultur smartphone itu adalah makin robohnya “attention span” kita.

Attention span maknanya adalah rentang atensi (atau rentang perhatian) kita untuk tekun menyimak sesuatu. Kecakapan ini tak pelak merupakan salah satu kunci skills untuk bisa sukses.

Kenapa? Sebab dengan attention span yang panjang dan mendalam, maka kita akan bisa menjalani sebuah action dengan lebih tekun dan dengan kekuatan fokus yang tinggi.

Sayangnya, kecakapan attention span itu kini pelan-pelan makin dihancurkan oleh kultur smartphone yang kian merebak.

Bukti attention span yang makin buruk itu salah satunya adalah begini. Sering ada status di medsos yang sudah jelas-jelas mencantumkan info harga dalam posternya. Namun ajaibnya, masih tetap ada yang nanya : harganya berapa ya? Saya sering banget menemui kejadian seperti ini. Dan ini amat menyebalkan.

Sejumlah orang menyangka orang yang tetap menanyakan sesuatu meski semua info SUDAH JELAS tercantum dalam poster/caption, adalah karena orang itu malas membaca dengan tuntas dan menyeluruh.

Sejatinya ada penyebab yang lebih fundamental dari sekadar masalah kemalasan. Fenomena itu sesungguhnya merupakan contoh sempurna tentang betapa makin hancurnya attention span para user internet. Artinya : hanya untuk membaca info dengan tuntas saja tidak sanggup. Rentang atensinya makin memburuk, dan enggan menelusuri sebuah info dengan fokus dan penuh ketekunan.

Contoh lain memburuknya attention span adalah ini : acapa sejumlah orang terlalu cepat ambil kesimpulan, padahal mereka belum baca semua isi kalimat atau isi artikel dengan menyeluruh, seksama dan cermat. Kejadian semacam ini kini sering terjadi, dan ini kembali menujukkan makin robohnya attention span sebagain orang.

Contoh lain lagi tentang menurunnya attention span adalah : anak-anak jaman sekarang mudah bosan untuk membaca artikel panjang dan mendalam (atau apalagi buku tebal yang sangat serius).

Contoh lain lagi adalah betapa kini makin banyak orang yang mudah bosan, cenderung sulit membangun konsentrasi panjang untuk menekuni sesuatu. Alhasil kinerja orang ini juga makin menurun, sebab gagal membangun sebuah fokus yang mendalam dan konsentrasi yang panjang untuk melakukan sesuatu.

Pertanyannya : kenapa kultur smartphone diam-diam membuat attention span kita makin hancur dan kian memburuk?

Jawabannya sederhana : sebab kultur smartphone memang mendorong usernya untuk selalu scroll-scroll ribuan konten yang ada di dalamnya (entah konten medsos, video, media online, olshop) dengan cepat dan bergegas.

Klik ini, klik itu, Tap ini, tap itu. Scroll ini, scroll itu. Begitu terus dilakukan berjam-jam tanpa disadari. Dan kemudian diulangi ratusan hari.

Semua desainer aplikasi smartphone amat paham, semakin mudah kita menikmati konten smartphone, maka semakin ketagihan kita dibuatnya.

Dan semua desainer app smartphone itu paham, kemudahan scroll-scroll dan tap, tap itu akan membuat kita makin nyaman dan makin ketagihan menikmati konten yang ada didalamnya.

Yang amat kelam adalah ini : kemudahan scroll-scroll itu lalu disertai dengan aliran konten yang seolah terus menyerbu kita tanpa henti.

Lalu, otak kita di-brainswash agar terus menikmati jutaan konten itu dengan cepat dan serba bergegas. Otak kita dilatih untuk terus melompat terus dari satu konten ke konten lainnya; tanpa atensi yang mendalam.

Akibatnya sungguh muram : kultur smartphone yang serba melompat dan serba bergegas seperti itu diam-diam sangat sukses menghancurkan attention span yang kita miliki.

Dan akibatnya sungguh konyol : banyak orang yang tetap nyolot nanya sesuatu meski semua sudah tercantum dengan JELAS di depan matanya.

Atau : makin banyak orang yang mudah kehilangan fokus dan sulit membangun ketekunan yang panjang dan mendalam.

Dan kita semua tahu : tanpa kekuatan fokus dan konsentrasi yang panjang, maka kita akan gagal melakukan sebuah action dengan konsisten.

Dan tanpa action yang konsisten, maka masa depan hidup kita akan sangat suram.

So what? Lalu apa solusinya?

Solusi yang paling mudah dan simpel adalah dengan cara mengurangi waktu kita untuk scroll-scroll layar hape.

Acapkali kita menghabiskan waktu terlalu banyak buat scroll-scroll layar hape demi konten yang sering tidak berdampak sama sekali terhadap peningkatan skills dan income Anda.

Cara paling simpel untuk mengurangi waktu scroll-scroll hape adalah ini : menggantikan waktu scroll-scroll hape dengan menjalani hobi atau kesenangan lain yang tidak membutuhkan gadget.

Ada banyak pilihan hobi yang bisa kita lakukan tanpa harus memakai gadget, semisal hobi membaca buku fisik, hobi naik gunung, hobi memelihara burung atau ikan, hobi berkebun, hobi memasak, hobi merajut, hingga hobi gowes.

Idealnya hobi ini juga murah meriah. Bukan malah menghabiskan biaya seperti hobi membeli sepeda mahal, atau hobi touring dengan menggunakan motor yang mahal harganya.

Studi menunjukkan saat Anda sukses menjalani hobi itu (misal hobi membaca buku atau hobi jalan kaki) sebagai kebiasaan (habit), dan kemudian disiplin melakukannya secara rutin, maka secara otomatis Anda juga akan makin mudah mengurangi scroll-scroll layar hape demi konten yang tidak berfaedah. Anda akan makin mudah mengendalikan diri agar tidak makin terjebak dalam kultur smartphone yang destruktif.

Demikianlah langkah simpel dan praktis agar kita tidak makin tenggelam dalam kultur smartphone yang makin melemahkan kekuatan attention span kita.

Tantangan Kerja Fresh Graduate di Tahun 2021

Tahun 2020 adalah tahun yang sulit untuk mereka yang sedang merintis karier dan tampaknya tahun 2021 masih memberikan tantangan yang sama terutama buat para fresh graduate. Pasalnya industri sedang lesu-lesunya, dan jumlah orang yang mencari pekerjaan juga membludak.

Kondisi ini membuat para fresh graduate tidak hanya bersaing dengan sesama fresh graduate tetapi juga para pekerja senior. Para fresh graduate membutuhkan lebih dari sekadar gelar sarjana untuk bersaing di dunia karier yang sulit sekarang ini.

Tantangan kerja di tahun 2021 menuntut para fresh graduate melampaui keahliannya. Apa sajakah tantangan kerja para fresh graduate di tahun 2021? Simak selengkapnya di sini!

1. Lapangan Kerja yang Menyempit

Seperti sudah disinggung sebelumnya, banyak industri yang tutup di tahun 2020 karena situasi pandemi. Sudah pasti dengan kondisi seperti ini kesempatan kerja menyempit, karena ada banyak orang juga kehilangan pekerjaan dan mencari pekerjaan di situasi yang sama.

2. Bersaing dengan Para Senior

Bisa dibilang di tahun 2020 ada banyak pemangkasan karyawan. Seperti dilansir dari kompas.com, per 31 Juli 2020, ada 3,5 juta karyawan yang mengalami PHK. Dan menurut data yang dipublikasikan di Detik Finance, per Februari 2020 ada 6,88 juta lulusan sarjana S1 dan SMK di Indonesia. Bayangkan, ada berapa banyak jumlah orang yang mencari kerja ditambah para fresh graduate?

3. Situasi yang Sulit Bisa Jadi Membuat Perusahaan Mencari yang Berpengalaman

Situasi yang sulit membuat para pekerja senior tidak terlalu tinggi mematok salary dan benefit-nya. Ini bisa jadi membuat perusahaan lebih memilih pekerja senior yang sudah punya pengalaman. Pastinya pertimbangan ini memberikan tantangan tersendiri buat para fresh graduate.

4. Ketidakpastian dalam Perusahaan

Tantangan lainnya adalah pada badan perusahaan itu sendiri. Percaya atau tidak, ada banyak perusahaan yang merasa tidak pasti dengan kondisinya. Kondisi ini sedikit banyak membuat perusahaan bingung, kira-kira talenta seperti apa yang dibutuhkan untuk pengembangan perusahaan ke depannya.

Faktanya, ada banyak perusahaan yang terpaksa membatalkan perekrutan karena ketidakpastian situasi. Terkadang beberapa perusahaan memutuskan untuk memaksimalkan tenaga karyawan yang sudah ada dengan penambahan jobdesc untuk posisi-posisi tertentu ataupun penggabungan departemen.