Archives Januari 2021

Pengertian Horenso, Tujuan dan 5 Level dalam Horenso

Terdapat berbagai budaya kerja di perusahaan Jepang, diantaranya 5S (Seiri, seiton, seisho,seiketsu dan sitsuke), chourei, nemawashi dan kanzen. Namun selain istilah-istilah tersebut ada budaya kerja bangsa Jepang yang terkenal dan juga telah menjadi bagian dari pola hidup masyarakat Jepang sehari-hari yaitu Horenso (houkoku, renraku dan soudan). Bagi bangsa Jepang konsep Horenso dalam melakukan pekerjaan menjadi kunci sukses dalam keberhasilan bekerja.

Pengertian Horenso

Hou-Ren-Sou adalah budaya kerja bangsa Jepang dalam berkomunikasi atau berdiskuasi, meliputi Houkoku (melaporkan), renraku (menginformasikan), dan soudan (konsultasi atau pra-konsultasi).

Karyawan harus selalu melaporkan hasil kerjanya kepada atasan. Kemudian atasan dan bawahan atau antar rekan kerja saling berbagi informasi. Kegiatan konsultasi sangat diperlukan, tidak layak seorang karyawan membuat keputusannya sendiri bahkan seorang yang memiliki kuasa di dalam sebuah organisasi atau perusahaan memerlukan diskusi untuk mengatasi sebuah permasalahan.

Tujuan Horenso

Penerapan budaya kerja Horenso ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  • Menciptakan budaya kerja yang nyaman dengan pola hubungan komunikasi yang efektif baik bawahan dengan atasan maupun antar rekan kerja.
  • Memudahkan komunikasi bisnis agar dapat berjalan lebih efektif
  • Meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam berkomunikasi sehingga dapat menggunakan bahasa dan pemilihan media yang tepat agar pesan mudah dipahami.

Penjelasan Konsep Houkouku, Renraku, dan Soudan

Horensou(穂連想 ) merupakan budaya berdiskusi dengan cara yang baik dan benar untuk mengatasi suatu permasalahan dalam pekerjaan. Berikut di bawah ini addalah penjelasan lengkap mengenai Houkouku, Renraku, dan Soudan yang merupakan ketiga kombinasi kata dari Horensu tersebut:

1. Houkouku

Konsep Houkouku(報告)artinya melaporkan, yaitu proses pemberian laporan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan tentang segala sesuatu yang seharusnya dikerjakan. Melalui houkoku seorang atasan dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran kepada bawahannya, sehingga si bawahan nantinya dapat menyelesaikan tugas seperti yang diharapkan.

Melalui Houkoku pula seorang atasan dapat menilai proses dan hasil pekerjaan yang telah diberikan. Setiap bawahan yang sedang bertugas menyelesaikan pekerjaannya harus mampu memberikan laporan setiap perkembangan aktivitas kerjanya kepada atasan. Laporan tersebut dibuat dengan data-data yang akurat, padat, dan jelas.

Pada tahap houkoku, ada dua jenis bentuk laporan, yaitu:

  1. Laporan dasar (basic), yaitu jenis pelaporan yang dapat dikerjakan kepada pegawai junior untuk membuat tiga jenis laporan yaitu, laporan hasil (結果報告), laporan interim atau dapat disebut juga middle progress report (中間報告), dan laporan permasalahan (トラブル報告) yang dibuat saat terjadi suatu masalah.
  2. Laporan aplikasi (application), yaitu jenis pelaporan setelah adanya peningkatan selama proses kerja. Terdapat dua jenis laporan aplikasi yaitu, laporan perubahan (変更報告) dan laporan informasi (情報報告).

Ketika menyampaikan laporannya, karyawan harus memperhatikan tiga hal penting berikut ini :

  • Tujuan pelaporan, yaitu karyawan harus mampu memahami untuk apa laporan tersebut dibuat dan disampaikan. Dengan memahami tujuannya, maka laporan yang dibuat tidak terkesan bertele-tele sehingga tujuan pelaporannya dapat dengan mudah dipahami oleh atasan.
  • Fakta dan analisa TOP (Time, Organization, Place), yaitu pembuatan laporan mengikuti prinsip ISO 9001, sesuai dengan fakta dan disertai dengan bukti-bukti yang akurat sehingga bisa ditentukan TOP-nya.
  • Metode Pelaporan, yaitu metode yang akan digunakan dalam pembuatan laporan sehingga hasil laporan yang dibuat terhindar dari potensi salah pengertian yang bisa berdampak pada kesalahan pengambilan keputusan.

Sebuah laporan yang baik apabila penyampaian informasinya dapat memberikan nilai tambah yaitu berdasarkan fakta dan data aktual, sudah dianalisa dan ada kesimpulannya. Hal ini akan memudahkan atasan untuk memberikan masukan yang sangat berharga sehingga tindakan penanggulangannya tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

2. Renraku

Konsep Renraku(連絡)artinya menginformasikan, yaitu proses pemberian informasi yang disampaikan antara rekan kerja atau dengan departemen lain, terutama terkait masalah-masalah yang berhubungan dengan pekerjaan kepada pihak terkait.

Yang terpenting dalam konsep Renraku ini adalah masing-masing pihak benar-benar menyampaikan fakta dan informasi yang ada. Pada saat menginformasikan, ada yang disebut dengan komunikasi vertikal (upward communication) antar atasan dan bawahan, dan komunikasi horizontal (horizontal communication ) antar sesama divisi/departemen dalam satu organiasi.

Banyak terjadi dimana pihak bawahan tidak dapat melakukan tugas yang bukan disebabkan oleh ketidak mampuannya dalam menjalankan tanggung jawabnya melainkan terjadi karena sedikitnya informasi yang diterima dari atasan. Kurangnya informasi yang mereka terima dari atasannya ini dapat menyebabkan hasil kerja bawahan menjadi tidak lengkap atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Proses renraku sangat bermanfaat untuk memberikan pengayaan berupa bisa saling berbagi informasi dan mencari informasi dari lintas departemen.

Berikut ini adalah kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penerapan konsep Renraku:

  • Karyawan tidak menjelaskan situasi dan kondisi real kepada pimpinannya;
  • Antar rekan kerja tidak terjalin kerjasama yang baik;
  • Karyawan tidak segera mengambil tindakan saat ada masalah sehingga membuat masalah semakin besar; dan
  • Karyawan mengambil kesimpulan pribadi tanpa didukung oleh data dan pengalaman.

Selain dengan rekan kerja, Renraku juga dapat diaplikasian saat bertemu dengan klien, seperti contohnya menyampaikan sesuatu dengan mudah, dan memikirkan kondisi lawan bicara.

3. Soudan

Konsep Soudan(相談)artinya mengkonsultasikan, yaitu proses konsultasi atau diskusi antara atasan dan bawahan. Ada kalanya kondisi di lapangan jauh berbeda dengan kondisi yang diperkirakan. Dalam hal ini bawahan bisanya mengalami kebingungan dalam menghadapi masalah yang tidak dapat dia selesaikan sendiri. Pada saat itulah diperlukan proses Soudan sehingga bawahan akan menerima pendapat, masukan, petunjuk dan saran dari atasan.

Soudan biasanya dilakukan dari bawahan kepada atasan atau dari orang yang tidak mengerti kepada orang yang lebih mengerti. Pola pikir orang Jepang, selalu berusaha untuk meminimalisir masalah dan potensi masalah.

Ketika konsultasi dilakukan, tidak selalu setiap ide yang disampaikan bawahan mendapat tanggapan yang positif dan langsung bisa diimplementasikan. Adakalanya pihak pelaksana (bawahan) diminta untuk memperbaiki ide dasar kemudian melakukan soudan (konsultasi) untuk kedua kalinya.

Pola ini dilakukan oleh para atasan di perusahaan-perusahaan Jepang dan bertujuan untuk menggali kemampuan diri sehingga bawahan lebih berinisiatif dengan ide-ide segar demi perbaikan perusahaan.

Konsep Soudan ini dapat mendorong perkembangan diri pada si karyawan sehingga dapat membuatnya bekerja dengan lebih semangat/ cekatan.

Saat ingin melakukan konsultasi, perhatikan dahulu hal-hal seperti berikut ini:

  • Tentukan waktu yang tepat untuk berkonsultasi,
  • Lakukan konsultasi sebelum terbelit masalah,
  • Bedakan antara konsultasi yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang bersifat pribadi,
  • Persiapkan terlebih dahulu pendapat dari diri sendiri tentang solusi yang ingin ditempuh,
  • Lengkapi data-data yang berhubungan dengan isi dari apa yang ingin dikonsultasikan,

Adapun langkah-langkah dalam konsultasi :

  • Analisa masalah (siapkan data-data),
  • Pikirkan solusi (coba selesaikan sendiri),
  • Konsultasikan dengan rekan sekerja atau pimpinan.

Dengan melakukan konsultasi, tentunya ada manfaat yang didapatkan. Manfaat-manfaat yang didapat dalam menjalankan konsep Soudan yaitu sebagai berikut:

  • Menghindari kesalahan sehingga karyawan dapat bekerja secara maksimal;
  • Hubungan karyawan dengan pimpinan semakin baik; dan
  • Membuka peluang untuk memajukan perusahaan.

5 Level Dalam Horenso

Terdapat lima level dalam penerapan Horensou. Adapun tahapan pelaksanaan dari masing-masing level tersebut dapat dilihat dari tabel level horenso di bawah ini.

Pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa lima (5) level Horenso, yaitu:

  • Level 1, yaitu tahap pemula (introductory) dalam menerapkan horenso.
  • Level 2, yaitu tahap dari pemula menuju ke tahap menengah (intermediate).
  • Level 3, yaitu tahap menengah (intermediate), dimana penerapan horenso sudah mulai dipahami tujuannya.
  • Level 4, yaitu tahap menengah menuju tahap horenso yang disebut tahap mahir (advanced).
  • Level 5, yiatu tahap mahir horenso, dimana orang-orang yang menerapkan horenso sudah terbiasa dan memahami benar mengenai budaya kerja horenso.

 

Itulah ulasan mengenai konsep budaya kerja Horenso dari bangsa Jepang yang dapat bermanfaat jika diaplikasikan di seluruh dunia, termasuk perusahaan-perusahaan di Indonesia. Penerapan budaya Horensou sebaiknya dilaksanakan di setiap pekerjaan sehingga masalah yang terkait dengan pekerjaan tersebut dapat diatasi secepatnya.

Patut Kamu Terapkan! 5 Etos Kerja Jepang

Kamu mungkin melihat bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat dengan etos kerja baik dan penuh etika.

Bahkan, hal tersebut sering kita lihat di restoran-restoran Jepang di Indonesia. Mengucapkan salam dan bahasa tubuh hormat lainnya merupakan kebiasaan yang sangat ditekankan oleh bisnis dengan budaya Jepang.

Ada 5 etos kerja dan prinsip masyarakat Jepang yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu kaizen, bushido, meishi kokan, keishandan ganbatte.

1. Kaizen

Dalam konteks bisnis dan produktivitas, Kaizen artinya adalah ‘pengembangan dan perbaikan yang terus menerus’. Tidak dalam pekerjaan saja, kaizen juga bisa diterapkan di kehidupan pribadi kamu. One Small Step Can Change Your Life: The Kaizen Way adalah bacaan yang menarik tentang prinsip ini.

Apa hal yang bisa dipelajari?

Secara umum, ada 6 langkah dasar dari ‘kaizen’, yaitu:

  1. Standardize: Buat sebuah standar proses untuk setiap aktivitas yang terorganisir dan bisa diulang secara rutin
  1. Measure: Ukur proses tersebut dengan data numerik seperti jumlah jam yang dibutuhkan, dsb
  1. Compare: Bandingkan hasil pengukuran dengan ketentuan standar.
  1. Innovate: Cari metode baru yang lebih baik dan efisien untuk mencapai hal yang sama atu bahkan lebih
  1. Standardize: Ciptakan standar proses yang baru lagi dari metode yang sudah lebih efisian tersebut
  1. Repeat: Ulang dari langkah 1 dan mulai kembali

 

Bagaimana cara menerapkannya?

  • Identifikasi di mana saja waktu dan energi kamu ‘terbuang’. Kalau ada sebuah project yang mendesak namun belum sempat kamu kerjakan dengan maksimal, mungkin kamu harus memangkas beberapa hal lain yang kurang mendesak. Atau, kalau kamu melakukan sebuah tugas yang repetitif, coba ukur waktu yang dibutuhkan dengan tools misalnya Pomodoro Timer.
  • Lakukan langkah-langkah kecil supaya bisa lebih efektif dan efisien. Misalnya, selama ini kamu merasa kamu tidak pernah mendapatkan waktu makan siang yang layak karena harus bekerja di jam tersebut. Identifikasi hal-hal yang dapat menghambat pekerjaan kamu selama ini. Mungkin mengurangi membaca artikel dan video online sambil bekerja? Atau datang ke kantor 10-15 menit lebih cepat.
  • Evaluasi dan perbaiki terus menerus. Cek kembali langkah-langkah kecil tersebut. Apakah sudah mencapai objektif yang kamu inginkan? Apa yang bisa lebih ditingkatkan.
  • Komitmen dengan waktu. Terlepas seberapa sering kamu melakukan evaluasi, yang terpenting dari kaizen adalah ketepatan waktu.

2. Bushido

Singkat kata, bushido adalah prinsip-prinsip dan etos kerja ala seorang kesatria.

Walaupun identik dengan dunia kesatria dan perang,  prinsip ini juga masih relevan di dunia modern.

Buat kamu yang ingin tahu lebih lanjut, buku The Art of War karya Sun Tzu cocok buat kamu. Sun Tzu juga memiliki edisi khusus bagi para pembaca wanita, yaitu Women and the Art of War: Sun Tzu’s Strategies for Winning without Confrontation

Apa hal yang bisa dipelajari?

Bushido memiliki serangkaian 7 nilai-nilai inti, yaitu:

  1. Kennin, yaitu kegigihan atau ketekunan
  2. Shinnen, yaitu keyakinan akan diri sendiri
  3. Shincho, yaitu kepedulian dan kebijaksanaan
  4. Seigi, yaitu keadilan dan kebenaran
  5. Sessei, yaitu kesederhanaan dan keseimbangan
  6. Jizen, yaitu perbuataan baik dan amal
  7. Kibo, yaitu harapan dan optimisme

Bagaimana cara menerapkannya?

  • Menghargai orang tua dan rekan kerja. Menghargai keluarga dan orang tua adalah hal yang vital sebagai seorang ‘ksatria’. Menurut prinsip Bushido, seseorang tergolong buruk apabila tidak menghargai orangtua mereka, terlepas kecerdasan dan keberhasilan yang mereka raih. Respek juga penting dalam dunia kerja. So, walaupun sibuk kerja, jangan lupain orangtua ya!
  • Setia pada janji dan pekerjaan. Kalau kamu sudah berjanji akan menyelesaikan hal A pada tanggal X, pastikan kamu menyelesaikan hal tersebut sesuai perkataan kamu. Kesetiaan adalah salah satu nilai bushido yang dapat diterapkan di kehidupan pribadi dan profesional.
  • Bijak dalam menggunakan uang. Bushido menekankan pentingnya keseimbangan antara tabungan dan pengeluaran. Jadi, kamu bisa mulai belajar untuk memilah-milah mana yang keinginan dan kebutuhan. Walaupun begitu, bushido juga menekankan bahwa keengganan untuk menggunakan uang ketika dibutuhkan adalah sebuah tindakan yang buruk, Jadi, tetap bijak dalam manajemen keuangan kamu ya!
  • Optimis dalam segala sesuatu. Konon, seorang samurai sejati sering diasosiasikan dengan kepercayaan diri yang absolut, sebuah optimisme bahwa mereka bisa mencapai apapun yang mereka mau.

3. Meishi Kokan

Kalau kamu meeting dengan orang Jepang, umumnya meeting tersebut akan dimulai dengan ritual bertukar kartu nama yang umumnya disebut meishi kokan.

Idealnya, kamu harus menerima kartu nama tersebut dengan kedua tangan, membaca informasinya dengan seksama, mengulangi informasi yang tertera di dalamnya sebagai bentuk konfirmasi, lalu meletakkan kartu nama tersebut ke dalam dompet kartu nama atau di atas meja sehingga kartu nama tersebut bisa jadi acuan ketika kamu dan mitra bisnis Jepang kamu sedang berbincang-bincang.

Jangan sekali-kali meletakkan kartu nama tersebut ke dalam kantong, ya!

Apa hal yang bisa dipelajari?

Bertukar kartu nama di awal menandakan bahwa kita menghargai hubungan profesional yang baru saja terbentuk dan akan terus menghargai hubungan tersebut ke depannya.

Sebuah pekerjaan atau bisnis membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan etos kerja agar bisa berhasil. Menghargai kartu nama rekan bisnis kamu sama saja dengan menghormati sepenuhnya etos kerja dan hasil pekerjaan mereka untuk mencapai titik mereka berada sekarang ini.

Bagaimana cara menerapkannya?

Kamu tidak perlu meniru sepenuhnya ritual ini dalam konteks masyarakat Indonesia. Tapi, paling tidak, kamu bisa mencoba untuk menerima dan mencerna informasi dalam kartu nama tersebut terlebih dahulu. Hindari terburu-buru memasukkan kartu nama tersebut ke dalam kantong mana saja di pakaian kamu apalagi kalau kartu namanya sampai terlipat.

4. Keishan

Serupa dengan kaizen, prinsip ini menekankan pentingnya perubahan dan peningkatan yang konsisten dalam bekerja. Namun, fokus dari keishan adalah pada kreativitas, daya inovasi, dan produktivitas. Buku Originals karya Adam Grant mengajarkan banyak tentang berpikir out of the box.

Apa hal yang bisa dipelajari?

Keishan mencoba mengajarkan kepada kita supaya tidak pernah berhenti belajar sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang unik, kreatif, dan bermanfaat. Etos kerja ini pastinya bermanfaat bagi kamu yang masih kuliah maupun sudah kerja.

Bagaimana cara menerapkannya?

  • Lakukan daily stand up meeting. Kamu bisa mencoba untuk mengadakan meeting harian dengan tim kamu dan menjabarkan apa saja yang ingin dicapai pada hari tersebut. Lebih uniknya, kamu dapat mencoba melakukan meeting ini sambil berdiri dan dengan durasi yang singkat. Jenis meeting seperti ini harapannya dapat membuat kamu lebih fokus dan terlibat.
  • Jangan berhenti mencari inspirasi. Setiap kali kamu menemukan sesuatu yang menurut kamu dapat menjadi solusi dan pengembangan bagi pekerjaan kamu, kamu bisa mencoba untuk menyimpannya di sekitar meja kerja kamu. Ada artikel bagus? Simpan tautannya, cetak artikelnya, dan letakkan di sekitar ruangan kerja kamu. Ada sebuah video yang menurut kamu bagus? Simpan tautannya, tonton videonya, dan bagikan kepada orang lain apa yang kamu dapatkan dari video tersebut. Kesannya sederhana, bukan?
  • Cari rekan yang memiliki pemikiran serupa. Inovasi jarang muncul begitu saja. Kamu mungkin membutuhkan orang-orang dengan semangat yang sama untuk dapat menjadi kreatif dalam apa yang kamu kerjakan. Kalian bisa saling bertukar ide dan inspirasi, berbagi artikel dan video bermanfaat, hingga pergi ke kursus tertentu untuk mempelajari skill baru bersama-sama.

5. Ganbatte

Buat kamu yang sering menonton acara TV Jepang, mungkin istilah ini sudah tidak asing lagi di telinga kamu. Secara harafiah, ganbatte berarti ‘tetap semangat’ atau ‘lakukan yang terbaik’.

Apa hal yang bisa dipelajari?

Masyarakat Jepang dikenal dengan semangatnya yang tak kunjung padam dalam menghadapi tantangan apapun dalam kehidupan mereka. Semangat ini tertanam dari sejak mereka kecil hingga mereka dewasa.

Saat masih di bangku sekolah, jam sekolah yang panjang dan tugas-tugas yang menantang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Belum lagi berbagai jenis tes yang harus mereka lewati dan kompetisi-kompetisi yang harus mereka lewati baik di dalam maupun luar sekolah. Di dunia kerja, semangat ini terus kentara dan tidak jarang masyarakat Jepang malu apabila pulang dari kantor lebih cepat daripada rekan kerja lainnya.

Bagaimana cara menerapkannya?

Buku Grit karya Angela Duckworth mengajarkan banyak hal mengenai semangat, kegigihan, ketekunan, dan passion dalam apa yang kita lakukan.

  • Kejar sesuatu hingga titik darah penghabisan. Kerja keras selalu mengalahkan talenta. Kalau kamu ingin tahu dan terampil dalam suatu hal, luangkan waktu untuk mempelajarinya. Latihan, latihan, dan latihan terus menerus. Mulai dengan project kecil.
  • Miliki mimpi yang besar dan target skala kecil. Misalnya, kamu ingin memiliki penghasilan sendiri dan tidak merepotkan orang tua kamu secara finansial. Apa langkah yang harus diambil? Kamu mungkin harus menyelesaikan kuliah dengan baik, mencari pekerjaan sampingan sebagai tambahan uang bulanan selama kuliah, dan mencari pekerjaan yang baik. Intinya adalah SMART goals.

Semangat dan etos kerja tentu saja penting. Namun, mencari pekerjaan yang cocok dengan passion dan skill kamu juga tidak kalah pentingnya. Segera sign up di Djobs.id untuk mendapatkan pekerjaan yang kamu impikan!

Alasan Umum Mengapa Kamu Tidak Bisa Menabung dan Cara Mengatasinya

Kita semua bekerja keras untuk mendapatkan uang. Pertanyaannya adalah, apakah kita bekerja cukup keras untuk memastikan bahwa kita tidak pernah kehabisan?

Menabung adalah kebiasaan yang sangat mendasar yang harus dipelajari setiap profesional. Tapi kita lebih suka menghabiskan uang yang dengan susah payah kita dapatkan daripada menyisihkannya untuk saat-saat genting. Ketidakmampuan menabung ini merupakan masalah yang serius dari sudut pandang keuangan dan dapat dikaitkan dengan banyak hambatan atau alasan yang terlalu akrab bagi banyak profesional di luar sana.

Berikut adalah beberapa alasan yang paling umum dilakukan oleh orang-orang yang tidak dapat menyimpan atau menabung sangat sedikit:

1. “Belum punya cukup uang untuk ditabung”

Ini merupakan alasan yang umum diantara professional muda yang baru memulai kariernya. Saat menabung menjadi sangat sulit karena gajimu masih kecil, bukan berarti kamu boleh tidak menabung sama sekali. Ingatlah, akan selalu ada ruang untuk perbaikan dan jika itu berarti kencangkan ikat pinggang, maka kamu harus melakukannya.

Mungkin sudah saatnya kamu melihat pengeluaranmu dan melihat apakah ada kesempatan untuk bisa menabung. Kamu juga bisa mengevaluasi ulang pekerjaanmu. Jika bayarannya benar-benar bermasalah, mungkin sudah saatnya kamu mencari pekerjaan lain yang lebih tinggi.

2. “Saya masih punya beberapa tagihan.”

Memiliki sejumlah uang bisa menghalangimu untuk menabung. Bisa juga, sambil melunasi hutang tapi tetap menabung. Semakin cepat kamu melepaskan diri dari hutang, semakin cepat bisa memulai tabungan untuk diri sendiri atau keluargamu.

Tapi kalau keuanganmu memungkinkanmu melunasi hutang dan menabung pada saat bersamaan, lalu apa yang menghentikanmu melakukannya? Menabung tidak berarti kamu menyisihkan sebagian besar gaji bulananmu dengan mengorbankan pembayaran hutang dan biaya hidupmu sendiri. Kamu hanya perlu mengalokasikan sejumlah kecil untuk tabunganmu. Dan begitu hutangmu menjadi lebih kecil, secara bertahap kamu bisa mulai meningkatkan jumlah uang yang kamu simpan.

3. “Saya tidak tahu kemana perginya uangku”

Banyak orang menggunakan alasan ini seolah-olah uang mereka tiba-tiba menghilang setelah menerima gaji mereka. Kalau kamu salah satu dari orang-orang itu, maka kamu pasti memiliki beberapa masalah serius dalam melacak pengeluaranmu. Kamu mungkin bahkan tidak pernah mengurus anggaran bulanan dalam hidupmu yang menjelaskan kenapa kamu tidak tahu di mana kamu menghabiskan uangmu.

Ingatlah bahwa kehilangan kendali atas pengeluaranmu adalah masalah serius dan kamu perlu mengendalikannya sesegera mungkin. Mulailah dengan melacak pendapatan dan pengeluaranmu. Tidak perlu skema yang rumit, hanya perlu membuat anggaran realistis yang bisa kamu gunakan dan jalani.

Setelah kamu bisa melacak pengeluaranmu, kamu juga bisa menentukan area di mana kamu bisa mulai memotong beberapa biaya dan mengalokasikannya ke rekening tabungan.

4. “Saya akan mulai menabung nanti.”

Tidak ada penundaan yang baik, sebaliknya malah bisa membahayakan masa depan keuanganmu. Alasan ini juga sama saja dengan “Saya masih terlalu muda untuk menabung” atau “Saya ingin menghabiskan uang hasil jerih payah saya selama masih bisa”. Tapi coba tebak? Tidak ada yang namanya “menabung terlalu dini” atau “terlalu muda untuk menabung”.

Sama sekali tidak ada alasan untuk menghabiskan semua uangmu hanya karena kamu bisa atau hanya karena kamu pikir kamu masih punya banyak waktu di masa depan untuk menabung. Kebenaran yang menyedihkan yang perlu kamu sadari adalah bahwa kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Kalau kamu punya kemampuan untuk menghemat uang sekarang, mulailah menabung!

Etika Dipanggil Interview

Luar biasa! Kamu telah diundang interview kerja! Bagaimana kamu merespons panggilan interview akan mempengaruhi kesan hrd tentang kamu, bahkan sebelum hrd bertemu dengan kamu.
Etika yang tepat diperlukan, langsung dari tahap awal dalam proses rekrutmen. Cara kamu berkomunikasi secara verbal dan tertulis sangat penting.

Berikut Etika Dipanggil Interview:

1. Jawab dengan Cepat dan Hati-hati

Panggilan interview diterima jika kamu yakin pekerjaan itu cocok buat kamu dan dapat menghadiri wawancara di waktu yang telah ditentukan. Kamu harus mempertimbangkan jarak yang ditempuh menuju tempat wawancara dengan tempat tinggal kamu, jika kamu sedang bekerja maka selain mengambil cuti perlu juga mempertimbangkan faktor-faktor lain.

Jika kamu setuju dengan jadwal  interview yang disarankan, kamu dapat menerimanya. Jika waktunya tidak sesuai, kamu dapat menginformasikan alternatif jadwal interview ke hrd.

Jika kamu memilih untuk menolak kesempatan wawancara, beri tahu hrd beserta alasannya.
Kamu dapat menanyakan detail informasi seperti: nama dan jabatan interviewer, alamat kantor yang jelas,  kamu dapat meminta “share location” atau moda transportasi yang mudah untuk mencapai tujuan.
Dalam banyak kasus, hrd dapat memilih untuk menghubungi kamu secara langsung melalui telepon atau email.

2. Membalas email undangan interview

“Terima kasih atas undangannya” kalimat pembukaan email balasan untuk dikirim ke hrd.
Jika mereka telah menawari kamu lebih dari satu tanggal dan waktu untuk wawancara, pilih tanggal dan waktu terbaik untuk kamu.
Jika tidak ada yang cocok balas dengan rentang tanggal atau waktu kapan kamu akan tersedia.
Mintalah semua detail informasi yang mungkin tidak ada dalam undangan .

3. Menanggapi panggilan interview melalui telepon/WhatsApp

Jangan lupa mengucapkan terimakasihlah kepada hrd karena sudah mendapatkan kesempatan interview. Apabila kamu berhalangan hadir maka wajib  menayakan permintaan jadwal ulang interview pada tanggal dan waktu wawancara melalui telepon. Jika kamu perlu waktu untuk memeriksa jadwal kamu, beri tahu hrd secara langsung atau telepon kembali sesegera mungkin.

4. Mengusulkan Alternatif Waktu Interview

Jika hari dan waktu yang ditawarkan hrd untuk interview ke kamu tidak ada yang pas, pertimbangkan untuk mengatur ulang jadwal interview. Beri tahu hrd bahwa kamu menghargai undangan interview ini dan kamu tidak sabar untuk bertemu, tetapi jadwalnya bentrok. Kamu dapat mengatakan bahwa dapat mengatur ulang jadwal interview, tetapi kamu perlu waktu untuk melakukannya dan akan diinformasikan ke hrd secepatnya, atau kamu dapat menyarankan tanggal alternatif. Selalu berusaha memudahkan hrd karena kamu yang sedang mencari pekerjaan.
HRD biasanya akan menindaklanjuti dengan email yang mengkonfirmasi waktu, nomor telepon, alamat dan pewawancara.

5. Datang untuk Interview

Sekarang kami telah berbagi tip untuk etika undangan wawancara, jangan lupa untuk benar-benar muncul di hari – h interview.
Jangan memberikan informasi bersedia datang interview tetapi tidak muncul diinterview, hal ini akan menurukan value mu dimata hrd
Jika kamu tidak dapat hadir atau berubah pikiran tidak mau hadir, berikan pemberitahuan yang cukup kepada hrd. Tidak datang interview tanpa ada pemberitahuan sebelumnya adalah etika yang buruk dan akan merusak citra profesional kamu. HRD dapat merekam kamu sebagai tidak tampil di Sistem SDM mereka.